Sabtu, 14 April 2012

Taubatnya Umat Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW telah dijamin akan selalu diampuni jika memang ada dosa atau kekeliruan yang beliau lakukan, baik yang telah berlalu atau yang akan datang. Namun demikian, beliau tak henti-hentinya beribadah, shadaqah dan berbagai macam amal kebaikan lain, serta tidak pernah sama sekali melanggar larangan syariat. Tidak cukup itu, beliau masih beristighfar kepada Allah, setiap harinya tujuhpuluh kali, riwayat lainnya seratus kali. Ketika istri beliau, Aisyah RA pernah ‘mempertanyakan’ gencarnya ibadah dan istighfar beliau itu, Nabi SAW bersabda, “Apakah tidak selayaknya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur??”
Namun demikian, terkadang Nabi SAW tampak dalam keadaan sedih. Yang menjadi beban pikiran beliau adalah umat beliau. Iblis dan syaitan begitu gencar melakukan berbagai macam cara untuk menjerumuskan umat Islam. Gebyar dunia dan hawa nafsu menjadi kendaraan syaitan untuk menyesatkan umat beliau, terutama yang hidup belakangan. Semua itu memang pernah ‘ditampakkan’ Allah kepada beliau, baik ketika perjalanan Isra’ Mi’raj, atau dalam mimpi-mimpi beliau.
Ketika dalam kesedihan seperti itu, Malaikat Jibril AS datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah mengirimkan salam kepadamu, dan berfirman : Barang siapa yang bertaubat dari umatmu, setahun sebelum kematiannya, maka taubatnya akan diterima!!”
Setelah berterima kasih dan menjawab salam-Nya, Nabi SAW bersabda, “Wahai Jibril, setahun itu sangat banyak (lama), karena kelalaian dan panjang angan-angannya (tulul amal) umatku itu sangat mendominasi kehidupan mereka!!”
Jibril berkata, “Aku akan menyampaikan ucapanmu kepada Allah, dan sesungguhnya Dia itu Maha Mengetahui…!!”
Tidak berapa lama Jibril datang lagi kepada Nabi SAW, dan berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu berfirman : Siapa yang bertaubat sebelum kematiannya, berselang satu bulan, maka taubatnya akan diterima!!”
Nabi SAW bersabda, “Wahai Jibril, satu bulan itu masih terlalu lama untuk umatku!!”
Jibril berkata, “Aku akan menyampaikan ucapanmu kepada Allah, dan sesungguhnya Dia itu Maha Mengetahui…!!”
Tidak berapa lama Jibril datang lagi kepada Nabi SAW, dan berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu berfirman : Siapa yang bertaubat dari umatmu, sehari sebelum kematiannya, maka taubatnya akan diterima!!”
Nabi SAW bersabda, “Wahai Jibril, satu hari itu masih terlalu lama untuk umatku!!”
Jibril berkata, “Aku akan menyampaikan ucapanmu kepada Allah, dan sesungguhnya Dia itu Maha Mengetahui…!!”
Tidak berapa lama Jibril datang lagi kepada Nabi SAW, dan berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu berfirman : Siapa yang bertaubat dari umatmu, satu jam sebelum kematiannya, tentu taubatnya akan diterima!!”
Nabi SAW bersabda, “Wahai Jibril, satu jam itu masih terlalu lama untuk umatku!!”
Jibril berkata, “Aku akan menyampaikan ucapanmu kepada Allah, dan sesungguhnya Dia itu Maha Mengetahui…!!”
Tidak berapa lama Jibril datang lagi kepada Nabi SAW, dan berkata, “Wahai Muhammad, Tuhanmu menyampaikan salam kepadamu dan Dia berfirman : Barang siapa dari umatmu yang melalui semua umurnya dengan kemaksiatan, dan ia belum kembali (bertaubat) kepada-Ku kecuali setahun sebelum kematiannya, atau sebulan, atau sehari, atau satu jam sebelum kematiannya, atau bahkan sebelum ruhnya sampai di tenggorokannya, dan tidak memungkinkan baginya untuk bertaubat atau meminta maaf dengan lidahnya, kecuali hatinya yang menyesal (atas dosa-dosa yang telah dilakukannya), maka sungguh Aku akan mengampuninya!!”
Nabi SAW amat gembira dengan kemurahan Allah atas umat beliau tersebut, dan tidak henti-hentinya mengucap syukur. Sungguh benarlah firman Allah, QS adh Dhuha ayat 5, “Walasaufa yu’thiika rabbuka fatardhoo!!” Artinya adalah : Dan kelak Tuhanmu pasti akan memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga hatimu menjadi ridho (puas, senang).
Dalam suatu kesempatan, Nabi SAW mengunjungi seorang lelaki dari kalangan Anshar yang sakit dan dalam keadaan sakaratul maut (naza’). Melihat keadaannya tersebut, beliau bersabda, “Bertaubatlah kamu kepada Allah!!”
Sahabat Anshar tersebut sepertinya memahami perkataan Rasulullah SAW, tetapi anggota tubuhnya tidak bisa bereaksi. Mulutnya tidak bisa mengucap istighfar atau kalimat tauhid, laa ilaaha illallah, tangannya tidak bisa diangkat untuk mengisyaratkan doa dan istighfarnya, hanya saja tampak bola matanya bergerak ke atas, seakan-akan memandang ke langit.
Tidak lama kemudian tampak Nabi SAW tersenyum, padahal saat itu kebanyakan yang hadir dalam keadaan bersedih dan khawatir karena orang Anshar tersebut sama sekali tidak menanggapi perintah Nabi SAW. Umar bin Khaththab yang menyertai beliau dan meriwayatkan peristiwa ini berkata, “Apa yang membuat engkau tersenyum, ya Rasulullah?”
Masih dengan tersenyum, beliau bersabda, “Orang yang sakit ini tidak bisa bertaubat dengan lidahnya. Tetapi ia bertaubat dengan isyarat matanya ke langit dan hatinya melakukan penyesalan. Dan Jibril baru saja memberitahukan kepadaku bahwa Allah berfirman : Wahai malaikat-Ku, hamba-Ku ini tidak bisa bertaubat dengan lidahnya, namun ia sangat menyesal di dalam hatinya. Dan Aku tidak menyia-nyiakan taubat dan penyesalan di dalam hatinya, dan saksikanlah bahwa Aku memberikan pengampunan kepadanya!!”  
Tentu saja kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW tidak boleh lalai dan ‘keasyikan’ dalam kemaksiatan, walau ada kemurahan Allah yang begitu besarnya seperti itu. Sesungguhnya kita tidak pernah tahu, kapan ajal kita tiba. Dan ajal bisa saja datang menjemput dengan tiba-tiba tanpa peringatan atau sakit terlebih dahulu. Karena itu, sebaiknya kita segera bertaubat dalam kesempatan pertama. Kalau di kemudian terjatuh lagi dalam maksiat, segera saja bertaubat. Allah tidak pernah bosan menerima taubat hamba-Nya, selama hamba tersebut belum ‘bosan’ bertaubat. Jangan pernah mengikuti ‘jejak’ Iblis yang tidak mau bertaubat, atau malas dan bosan bertaubat karena putus asa dari rahmat Allah.

2 komentar: