Jumat, 04 Maret 2016

Dajjal dan Beberapa Peristiwa Menjelang Kiamat

Suatu ketika di pagi hari, Rasulullah SAW berkumpul bersama beberapa sahabat dan beliau bercerita tentang Dajjal. Dalam bercerita tersebut terkadang beliau merendahkan/melirihkan suara, seolah-olah tidak ingin terdengar oleh orang lainnya kecuali para sahabat tersebut, dan terkadang beliau mengeraskannya. Melihat ‘dramatisasi’ suara tersebut, para sahabat mengira Dajjal yang sedang diceritakan tersebut berada di kebun kurma yang berada tidak jauh dari mereka berkumpul. Beberapa di antara mereka segera berlari ke kebun kurma mencari-cari, tetapi sesaat kemudian kembali lagi.
Nabi SAW bersabda kepadanya, “Apa maksudmu?”
Mereka menjelaskan, akibat pengaruh suara beliau yang kadang direndahkan dan dikeraskan itu, mereka beranggapan bahwa Dajjal berada di kebun kurma, karena itu mereka mencari-carinya. Beliau tersenyum mendengar penjelasan tersebut dan bersabda, “Selain Dajjal, ada yang aku lebih khawatirkan ….!!”
Nabi SAW tidak menjelaskan lebih lanjut tentang apa yang beliau lebih khawatirkan daripada Dajjal tersebut, tetapi dari beberapa sabda beliau lainnya, beberapa ulama menjelaskan adalah fitnah ‘terbukanya’ dunia. Ketika kemewahan dan kenikmatan harta benda duniawiah telah menjadi ‘gaya hidup’ umat Islam, sehingga orientasi hidup akhirat terabaikan. Wallahu A’lam.
Beliau melanjutkan, “Jika Dajjal keluar sedangkan aku berada di tengah-tengah kalian, niscaya cukup aku saja yang melawannya. Jika Dajjal keluar sedangkan aku tidak berada di antara kalian, maka masing-masing orang harus bisa mempertahankan dirinya. Allah sebagai gantiku di dalam melindungi setiap muslim. Dajjal adalah seorang pemuda berambut keriting, matanya agak menonjol keluar. Kalau boleh aku mengumpamakan, dia itu seperti Abdul Uzza bin Qahtan. Jika di antara kalian menjumpainya, hendaknya membacakan permulaan Surat al Kahfi kepadanya. Dajjal keluar di antara Syam dan Irak, kemudian membuat onar ke kanan dan ke kiri. Wahai hamba Allah teguhkanlah pendirianmu!!”
Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa lama ia di permukaan bumi?”
Beliau bersabda, “Empatpuluh hari, sehari seperti satu tahun, sehari seperti satu bulan, sehari seperti satu minggu, dan  hari-hari lainnya seperti hari-hari biasa.”
Seorang sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, untuk satu hari yang seperti satu tahun, apakah kita cukup mengerjakan shalat seperti satu hari biasa saja?”
Beliau bersabda, “Tidak, kira-kirakan saja!!”
Begitu pentingnya ibadah shalat, sehingga dalam keadaan seperti itu Nabi SAW masih tetap memerintahkan shalat lima waktu tanpa keringanan. Artinya, dalam satu hari yang seperti satu tahun, kita harus melaksanakan shalat lima waktu sebanyak 365 kali (atau 354 kali untuk perhitungan tahun Hijriah). Untuk satu hari yang seperti satu bulan, shalat lima waktu dilaksanakan sebanyak 30/29 kali, dan untuk satu hari yang seperti satu minggu, dilaksanakan sebanyak tujuh kali. 
Mereka bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana kecepatannya di muka bumi?”
Beliau bersabda, “Seperti awan yang didorong angin…..!!”
Beliau melanjutkan menjelaskan, bahwa Dajjal akan mendatangi suatu kaum dan mengajak untuk mereka untuk mengikutinya. Jika mereka percaya dan mengikuti apa yang diperintahkan, maka ia akan menyuruh langit untuk menurunkan hujan, maka turunlah hujan. Ia menyuruh bumi untuk menumbuhkan tanam-tanaman, maka tumbuhlah tanam-tanaman, sehingga kembalilah para penggembala dengan ternak yang segar bugar, teteknya penuh dengan air susu dan tubuhnyapun gemuk-gemuk.
Kemudian Dajjal mendatangi suatu kaum lainnya dan mengajak mereka untuk mengikuti dan mempercayainya, tetapi mereka menolak. Maka Dajjal meninggalkan mereka dalam keadaan yang sangat menyedihkan, karena tidak ada harta sedikitpun yang tertinggal bagi mereka. Inilah memang salah satu kelebihan (atau lebih tepatnya disebut fitnah) yang ‘diijinkan’ Allah akan dimiliki Dajjal, harta kekayaan dunia akan mengikuti dan ‘patuh’ kepadanya. Jika ia melalui suatu daerah yang kosong, kemudian berkata, “Keluarkanlah simpananmu!!”
Maka harta kekayaan daerah itu tiba-tiba muncul dan mengikuti/mengiringi Dajjal kemanapun ia pergi, layaknya raja lebah yang diikuti oleh pasukannya.
Dajjal juga dibekali berbagai kelebihan lainnya, layaknya mu’jizat bagi Nabi dan Rasul ataupun karamah bagi seorang Waliyullah. Ia akan memanggil seseorang yang masih muda dan memenggalnya dengan pedangnya menjadi dua, kemudian melemparnya ke tempat yang jauh. Kemudian Dajjal memanggil pemuda itu, dan ia datang dengan tertawa dan wajah yang berseri-seri menghampirinya. Dajjal juga bisa ‘menghidupkan’ orang yang telah lama mati, seperti Nabi Isa AS, hanya untuk mempengaruhi seseorang agar mempercayai dan mengikuti dirinya.
Dajjal telah menebar fitnahnya ke seluruh penjuru dunia (bumi), kecuali kota Makkah dan Madinah yang memang dijaga oleh Allah. Begitu banyak orang yang tertipu dengan surga dan neraka yang ‘dibawa’ oleh Dajjal. Kaum beriman yang selamat dari tipuannya, bertahan hidup dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Dalam penjelajahannya, ia selalu diikuti oleh oleh kaum Yahudi Ishbahan sebanyak tujuh puluh ribu orang, yang berseragam dan bersenjata lengkap. Ketika pengaruhnya telah merata ke hampir seluruh penjuru dunia dan telah ‘dituhankan’ oleh sebagian besar pengikutnya, Allah memerintahkan Nabi Isa AS untuk turun ke bumi.
Beliau turun pada menara putih di sebelah timur Damaskus, dengan tangan yang berpegangan pada sayap dua malaikat. Bila beliau menundukkan kepalanya, maka meneteslah air mata, bila mengangkat kepalanya, maka mengalirlah butiran air yang seperti mutiara. Orang kafir yang membaui nafas beliau akan mati, padahal nafas beliau itu bisa dirasakan (dibaui) sejauh batas pandangan. Dajjal ketakutan ketika mendengar berita ini, maka ia berusaha melarikan diri. Nabi Isa melakukan pengejaran hingga beliau berhasil membunuhnya di Babul Lud, sekitar 3 km sebelah barat Baitul Maqdis. Kemudian Nabi Isa mendatangi kaum yang telah dipelihara Allah dari pengaruh Dajjal, mengusap wajah mereka dan menceritakan derajad mereka di surga.
Setelah pengaruh Dajjal yang menimpa kaum beriman telah hilang, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Isa, “Sesungguhnya Aku telah mendatangkan mahluk kepada hamba-Ku (yakni kaum yang beriman), yang tiada seorangpun yang bisa memerangi mereka, maka ungsikan hamba-hambaKu ke bukit Thur…”
Yang dimaksudkan dengan mahluk itu adalah Ya’juj Ma’juj, yang selama ini telah ‘dipenjara’ (dibatasi) dengan tembok perlindungan yang dibangun oleh Dzulqarnain ribuan tahun sebelumnya. Tembok baja yang dibuat dari campuran besi dan tembaga itu memang telah tiba waktunya untuk hancur, sebagaimana dikehendaki Allah, menyusul turunnya Nabi Isa AS dan matinya Dajjal.
Nabi Isa segera menggerakkan kaum muslimin menuju Bukit Thursina, salah satu dari empat tempat yang aman dari serangan Ya’juj Ma’juj, karena Allah telah menugaskan para malaikat untuk melakukan penjagaan dan perlindungan. Tiga tempat lainnya adalah Makkah, Madinah dan Baitul Maqdis. Dalam riwayat lainnya disebutkan, Nabi Isa AS bertahan di Baitul Maqdis. Tidak lama kemudian Ya’juj Ma’juj turun dari tempat yang tinggi dalam rombongan yang sangat besar dan menyebar ke seluruh penjuru bumi. Rombongan yang pertama tiba di danau Thabariyah dan mulai meminum airnya, tetapi rombongan terakhir mendapati danau dalam keadaan kering. Mereka berkata, “Tadi di sini penuh dengan air.”
Mereka membaur di antara manusia dan membuat kerusakan yang luar biasa, sebagaimana terjadi sebelum dipenjara dalam tembok baja di antara dua gunung oleh Dzulqarnain. Saat itu Ya’juj Ma’juj bukan hanya sekedar menyesatkan dan melukai manusia, tetapi juga merusak dan menghancurkan sumber makanan. Binatang dan tumbuh-tumbuhan, baik yang kecil ataupun yang besar dibunuh dan dirusaknya, bumi luluh lantak tidak berbentuk lagi sebagai tempat hunian yang layak bagi manusia. Kaum muslimin yang tinggal di empat tempat terlindung tersebut juga dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Nabi SAW menggambarkan pada para sahabat, “Kepala seekor lembu saat itu jauh lebih berharga daripada seratus dinar yang kalian miliki saat ini.”
Dinar adalah uang emas berkadar 22 K dengan berat hampir 4 gr, berarti saat itu sekitar 400 gr (4 ons) emas dengan kadar 22 K nilainya lebih rendah daripada kepala seekor lembu.
Ya’juj Ma’juj masih keturunan Nabi Adam seperti kita juga dan jumlahnya sangat banyak, saat itu mereka mendominasi permukaan bumi. Nabi SAW pernah menceritakan bahwa Allah berfirman kepada Nabi Adam AS agar mengirim ‘pasukan neraka’ di antara anak cucunya. Ketika beliau menanyakan tentang ‘pasukan neraka’ itu, Allah berfirman, “Dari setiap seribu orang, ada sembilanratus sembilanpuluh sembilan orang (yang akan masuk neraka).”
Para sahabat yang mendengar hal itu berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana keadaan kita kalau yang bukan pasukan neraka itu hanya satu di antara seribu orang?”
Nabi SAW bersabda, “Bergembiralah, karena di antara kalian hanya satu orang, sedangkan dari kalangan Ya’juj Ma’juj seribu orang…”
Cukup lama Nabi Isa dan kaum muslimin dalam penderitaan karena adanya Ya’juj Ma’juj ini, mereka pun berdoa kepada Allah agar melenyapkannya. Maka Allah mendatangkan penyakit (dalam riwayat lain, ulat yang menggerogoti) yang menyebabkan Ya’juj Ma’juj di seluruh bumi itu mati secara serentak. Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa Ya’juj Ma’juj mati karena dihantam angin puyuh yang pernah ‘diperintahkan’ Allah untuk menghancurkan kaum ‘Ad.
Setelah itu kaum muslimin turun dari bukit Thursina, tetapi mereka mendapati bangkai dan bau busuk Ya’juj Ma’juj memenuhi setiap jengkal tanah. Mereka kembali berdoa kepada Allah, dan Allah mengirim burung-burung hitam yang menyerupai leher onta, yang memunguti bangkai Ya’juj Ma’juj dan membuang ke tempat yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah menurunkan hujan deras yang merata ke seluruh bumi untuk ‘men-suci-kan’nya, tetapi tanpa membahayakan manusia yang tersisa saat itu. Setelah itu Allah berfirman kepada bumi, “Tumbuhkanlah pohon dan buah-buahanmu, dan keluarkanlah barakahmu….!!”
Saat itulah tercipta kesejahteraan yang merata di bumi. Seseorang akan merasa cukup dengan makan sebuah Delima (atau buah lainnya), dan berlindung di bawah pohonnya. Manusia juga memperoleh keberkahan dengan susu ternaknya, susu dari seekor unta cukup untuk beberapa kelompok manusia, susu dari seekor sapi cukup untuk satu kabilah (suku bangsa), dan susu dari seekor kambing cukup untuk beberapa orang.
Saat itu Nabi Isa AS menjadi pemimpin dunia, tetapi beliau menjalankannya sesuai syariat Nabi Muhammad SAW. Walaupun saat itu masih ada orang yang ingkar terhadap ajaran Islam, tetapi mereka tetap mendapat perlakuan adil dari pemerintahan beliau, seperti halnya yang dilakukan Rasulullah SAW ketika beliau mendirikan pemerintahan Islam di Madinah. Tidak ada pemaksaan untuk beriman dan memeluk Islam, apalagi pengusiran dan pembunuhan seperti yang dialami umat Islam Spanyol ketika pasukan Perang Salib dari Eropa kembali menguasai negeri itu. Hanya saja simbol-simbol kekafiran dan kemusyrikan seperti salib, berhala-berhala, dan lain-lainnya akan dihancurkan. Tetapi ada juga pendapat menyebutkan, bahwa Nabi Isa akan memberlakukan hukum bunuh bagi mereka yang menolak untuk memeluk Islam. Wallahu ‘Alam.
Keadaan aman tenteram yang digambarkan Al Qur’an dengan ‘Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur’ itu berlangsung selama tujuhpuluh tahun. Dan selama itu tidak ada permusuhan dan dendam di antara sesama manusia. Setelah wafatnya Nabi Isa, Allah akan mengirimkan angin sejuk (Riihun Baridah atau dalam riwayat lainnya Riihun Thoyyibah) dari arah Syam yang menyebar ke seluruh penjuru bumi. Tidak seorangpun yang di dalam hatinya terdapat sebesar dzarrah (atom) dari iman dan kebaikan kecuali ia akan meninggal karena angin sejuk tersebut, yang akan masuk ke tubuhnya dari ketiaknya. Bahkan seandainya ada seseorang yang berlari ke gua di kaki gunung untuk bersembunyi, tetapi di hatinya masih ada iman dan kebaikan, maka angin sejuk itu akan mengejarnya dan mencabut nyawanya.
Setelah peristiwa itu bumi hanya akan dihuni oleh orang-orang yang jahat, yang hidup seperti burung dan berjiwa binatang buas, mereka tidak mengenal kebaikan dan tidak menolak (meninggalkan) kemungkaran. Dalam keadaan seperti itu, syetan akan menjelma di antara mereka, tentunya dengan penampilan dan wibawa yang memikat, dan berkata, “Bukankah kalian semua bersedia melaksanakan perintahku?”
Mereka berkata, “Apakah yang engkau perintahkan?”
Maka syetan memerintahkan mereka untuk menyembah berhala (arca), dan mereka bersedia melakukannya. Kesesatan dan keingkaran mereka makin menjadi-jadi karena saat itu Allah terus saja memberikan rezeki yang berlimpah pada mereka (yakni, sebagai bentuk istidraj), dan kehidupan mereka semakin membaik. Maka terus saja mereka berbuat kerusakan di muka bumi, sampai pada akhirnya Allah memerintahkan malaikat Isrofil untuk meniup sangkakala tanda kiamat telah tiba.
Ada beberapa tanda-tanda besar (alamat kubra) lainnya dari kiamat, seperti terbitnya matahari dari arah barat, munculnya Imam Mahdi, Dabbah, dan asap tebal (Dukhon), tetapi tidak disebut dalam riwayat ini. Ada perbedaan ulama dalam urutan terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut, mungkin sebelumnya, di antaranya, atau sesudahnya dari peristiwa yang dikisahkan di atas. Begitu juga ada ulama yang menambahkan alamat kubra lainnya, yakni runtuhnya Ka’bah dan hilangnya Al Qur’an, baik secara tulisan dari mushaf-mushaf ataupun dari hafalan manusia. Tetapi terlepas dari semua itu, kita harus mengimani bahwa peristiwa-peristiwa akan terjadi di akhir zaman, terlepas dari bagaimana urutan kejadiannya. Wallahu A’lam.

“Ia berkata benar walau ia seorang Pendusta”

Suatu ketika di Bulan Ramadhan, Abu Hurairah ditugaskan Nabi SAW untuk menjaga dan mengelola zakat yang terkumpul. Tetapi di malam harinya ada seorang lelaki yang mengambil segenggam makanan dari zakat tersebut, maka ia segera menangkapnya dan berkata, “Sungguh saya akan melaporkan engkau kepada Rasulullah!!”
Lelaki itu berkata memelas, “Sesungguhnya saya ini seorang yang miskin dan saya ini mempunyai banyak (anggota) keluarga, dan saya membutuhkan makanan…!!”
Mendengar perkataannya itu Abu Hurairah merasa kasihan dan melepaskannya.
Keesokan paginya ia bertemu Nabi SAW dan beliau bersabda, “Wahai Abu Hurairah, apa yang diperbuat oleh tawananmu tadi malam?”
Ia berkata, “Wahai Rasulullah, ia mengeluh sangat membutuhkan makanan sedangkan ia mempunyai banyak keluarga. Karena itu saya merasa kasihan dan melepaskannya.”
Beliau bersabda, “Sesungguhnya ia berdusta, dan ia akan datang lagi kepadamu!!”
Abu Hurairah yakin dengan pemberitahuan Rasulullah SAW tersebut, maka ia berjaga-jaga di malam harinya. Ternyata benar, lelaki itu kembali muncul dan mengambil segenggam makanan, ia segera menangkapnya seperti malam sebelumnya, dan berkata, “Sungguh saya akan melaporkan engkau kepada Rasulullah!!”
Lagi-lagi lelaki itu berkata memelas, “Maafkan saya, sesungguhnya saya ini seorang yang miskin dan saya ini mempunyai banyak keluarga, dan saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi…!!”
Ia masih merasa kasihan kepada lelaki itu dan melepaskannya.
Pagi harinya ia bertemu Nabi SAW lagi dan beliau bersabda, “Wahai Abu Hurairah, apa yang diperbuat oleh tawananmu?”
Abu Hurairah berkata, “Wahai Rasulullah, ia mengeluh sangat membutuhkan makanan sedangkan ia mempunyai banyak keluarga. Karena itu saya merasa kasihan dan melepaskannya.”
Beliau bersabda seperti sebelumnya, “Sesungguhnya ia berdusta, dan ia akan datang lagi kepadamu!!”
Malam harinya ia berjaga-jaga, dan benar apa yang dikatakan Nabi SAW bahwa lelaki itu datang lagi dan mengambil segenggam makanan. Setelah menangkapnya, Abu Hurairah berkata, “Sungguh saya akan melaporkan engkau kepada Rasulullah. Ini adalah perbuatanmu yang ketiga kalinya, dimana engkau berjanji tidak akan mengulanginya lagi!!”
Lelaki itu berkata, “Maafkan saya, janganlah engkau membawa saya kepada Rasulullah, saya akan memberitahukan kepadamu beberapa kalimat, yang Allah akan memberikan manfaat kepadamu dengan kalimat itu…!”
Abu Hurairah berkata, “Apakah kalimat itu?”
Lelaki itu berkata, “Apabila engkau hendak tidur, hendaknya engkau membaca ayat kursiy (QS Al Baqarah 255), yakni Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qayyum …..dst. hingga akhir ayat. Jika engkau membacanya niscaya Allah akan selalu memberi perlindungan, dan syetan tidak akan datang kepadamu sampai pagi tiba…!”
Akhirnya ia melepaskan lagi lelaki itu, dan keesokan paginya Nabi SAW bersabda kepadanya, “Apa yang diperbuat oleh tawananmu?”
Ia berkata, “Wahai Rasulullah, ia memberitahukan kepada saya beberapa kalimat, yang mana Allah akan memberi manfaat kepada saya dengan beberapa kalimat itu, karena itu saya melepaskannya!!”
Nabi SAW bersabda, “Kalimat-kalimat apa itu?”
Ia berkata, “Lelaki itu berkata kepada saya : Apabila engkau hendak tidur, hendaknya engkau membaca ayat kursiy, yakni Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qayyum …..dst. hingga akhir ayat. Jika engkau membacanya niscaya Allah akan selalu memberi perlindungan, dan syetan tidak akan datang kepadamu sampai pagi tiba…!”
Sambil tersenyum Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya ia berkata benar kepadamu, walau sebenarnya ia seorang Pendusta. Tahukah kamu, siapa yang datang kepadamu selama tiga hari ini, wahai Abu Hurairah?”
Ia menjawab, “Tidak, ya Rasulullah!!”
Beliau bersabda, “Ia adalah syetan!!” 
 
Note : rs2089

Rabu, 02 September 2015

Ketika Nabi SAW Menerima Wahyu Pertama

Berada pada lingkungan yang tidak sesuai dengan karakter jiwanya sungguhlah tidak mudah, dan itulah yang dirasakan oleh Rasulullah SAW. Untungnya, ketika dalam pengasuhan Abu Thalib yang merupakan tokoh Quraisy penyembah berhala, beliau ‘dibebaskan’ dengan sikap dan pemikiran beliau sendiri, tidak dipaksa dan ‘dididik’ untuk mengikuti keyakinan pamannya tersebut.
Ketika menikah, Nabi SAW mendapat dukungan penuh dari istrinya, Khadijah binti Khuwailid, yang sejak lama memang telah terpikat dengan keluhuran dan ketinggian akhlak beliau. Ia termasuk orang yang ‘berpendidikan’ dan terjaga, ia tidak hanya mengenal lingkungan Quraisy dan seluk beluknya, tetapi ia juga mengenal agama wahyu sebelumnya, yakni Nashrani. Hal ini disebabkan anak pamannya (yakni sepupunya), Waraqah bin Naufal adalah seorang pemeluk Nashrani yang taat dan sangat mengenal kitab Injil, dan ia cukup akrab dengannya.. Karena itulah Nabi SAW sangat mencintai dan menyayangi Khadijah, tidak hanya sebagai istri, tetapi juga sebagai sahabat yang bisa menjadi sandaran ketika beliau mengalami ‘keresahan’ dalam pencarian hakekat kebenaran.
Dari tahun ke tahun, seolah-olah Nabi SAW  asyik menjelajah waktu, tenggelam dalam ‘pencarian’ dan perenungan untuk mematangkan pemikiran dan kejiwaan beliau. Puncaknya adalah tahun-tahun menjelang usia 40 tahun, beliau sangat senang mengasingkan diri (berkhalwat) ke Gua Hira di Jabal Nur, sekitar dua mil (3 km) dari Kota Makkah. Di gua yang tidak terlalu besar tersebut, sekitar satu hasta kali empat hasta, beliau merenungkan berbagai macam hal, termasuk hal-hal yang tersembunyi di balik kenyataan. Beliau membawa bekal secukupnya, yang biasanya cukup untuk satu bulan di dalam gua Hira. Setelah bekalnya habis, beliau kembali ke rumah di Makkah. Setelah beberapa hari di rumah, beliau kembali lagi ke Gua Hira meneruskan "uzlah" dan perenungan beliau.
Sekitar tiga tahun lamanya Nabi SAW berkhalwat di Gua Hira, dan setelah genap berusia 40 tahun (dalam hitungan qomariah/hijriah), beliau memperoleh impian yang mirip dengan suasana fajar menyingsing di waktu subuh. Mimpi yang bisa dikatakan sebagai permulaan nubuwwah itu terjadi pada Bulan Rabi’ul Awwal. Dan impian sama seperti itu berulang-ulang datang selama enam bulan, hingga pada suatu malam ketika sedang berada di gua Hira, saat itu hari senin tanggal 21 Ramadhan (sebagian pendapat menyatakan  tanggal 27, 17, 18 atau 7 Ramadhan), Nabi SAW didatangi sosok, yang kemudian dikenali sebagai Malaikat Jibril, yang berkata kepada beliau, "Bacalah"
Beliau gemetar melihat kehadiran sosok Malaikat Jibril yang tidak/belum dikenalinya ini, dan berkata, "Saya tidak bisa membaca!!"
Memang Nabi SAW tidak mengerti baca tulis, karena itu beliau sering disebut dengan Nabiyyil Ummi (Nabi yang buta huruf). Malaikat Jibril memegang dan mendekap Nabi SAW hingga beliau merasa sesak. Kemudian melepaskannya lagi dan berkata, "Bacalah!!"
Nabi SAW berkata lagi, "Saya tidak bisa membaca…!!"
Malaikat Jibril mendekap beliau hingga beliau merasa sesak, kemudian melepaskannya. Hal itu masih berulang sekali, setelah itu Malaikat Jibril berkata, "Iqra' bismi rabbikalladzii kholaq, kholaqol insaana min alaq, Iqra' wa rabbukal akram, alladzii 'allama bil qolam, 'allamal insaana maa lam ya'lam." (QS Al Alaq 1-5).
Artinya lebih kurang sebagai berikut : Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang telah menciptakan; Dia menciptakan manusia dari segumpal darah; Bacalah, dan Tuhanmu-lah Yang Maha Pemurah; Yang mengajar dengan perantaraan kalam (pena); Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Itulah wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi SAW lewat Malaikat Jibril. Beliau mengulang kalimat-kalimat wahyu tersebut dengan lancar, walaupun dengan hati yang gemetar, kemudian Malaikat Jibril berlalu (menghilang). Beliau segera turun dari Gua Hira dan pulang ke Makkah. Badan beliau menggigil seperti orang yang terkena penyakit demam. Setelah bertemu istri beliau, Khadijah, beliau berkata, "Selimutilah aku, Selimutilah aku!!"
Khadijah menyelimuti beliau, dan setelah mulai tenang, beliau berkata, "Apa yang terjadi denganku?"
Kemudian beliau menceritakan semua peristiwa yang beliau alami di dalam Gua Hira malam itu, dan menutupnya dengan berkata, "Sesungguhnya aku mengkhawatirkan keadaan diriku sendiri..!!"
Khadijah dengan bijak berkata, "Tidak, demi Allah, Allah tidak akan menghinakan dirimu selamanya, karena engkau suka menyambung tali persaudaraan, ikut membawakan dan meringankan beban orang lain, memberi makan orang yang miskin, menjamu tamu dan menolong orang yang menegakkan kebenaran…!!"
Beberapa tahun sebelum pernikahannya dengan Nabi Muhammad SAW (saat itu belum menjadi Nabi SAW), Khadijah pernah bermimpi, matahari turun dari langit ke atas Kota Makkah, kemudian matahari itu meluncur masuk ke rumahnya, dan menerangi seluruh penjuru rumahnya, dan juga lingkungan sekelilingnya. Mimpi yang begitu berkesan tersebut diceritakan kepada saudara sepupunya, Waraqah bin Naufal. Dengan pemahamannya atas kitab Injil dan kitab lainnya, ia berkata, "Sungguh akan turun (datang) seorang nabi dari Kota Makkah, dan engkau (Khadijah) akan menjadi istrinya, dan nabi tersebut akan menyampaikan dakwah dari dalam rumahmu…!!"
Dengan cerita yang disampaikan Nabi SAW itu, segera saja Khadijah teringat akan impiannya belasan tahun sebelumnya. Ia mengajak Nabi SAW untuk menemui Waraqah bin Naufal, yang saat itu usianya telah sangat lanjut dan matanya telah buta. Setelah bertemu, Khadijah berkata, "Wahai anak pamanku, dengarkanlah cerita dari anak saudaramu ini (yakni Nabi Muhammad SAW)!!"
Waraqah berkata kepada Nabi SAW, "Apa yang telah engkau lihat, wahai anak saudaraku??"
Nabi SAW menceritakan secara detail pengalaman beliau ketika didatangi sosok (Malaikat Jibril) di Gua Hira. Mendengar cerita tersebut, Waraqah berkata dengan rona wajah gembira, "Itu adalah Namus (yakni, Malaikat Jibril) yang diturunkan Allah kepada Musa!! Andai saja aku masih muda ketika masa itu tiba…andai saja aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu..!!"
Matanya yang telah memutih dan buta tersebut tampak berbinar-binar penuh harapan. Nabi SAW berkata, "Benarkah mereka akan mengusirku??"
"Benar, tak seorangpun yang membawa seperti apa yang engkau bawa, kecuali dia akan dimusuhi…" Kata Waraqah, matanya yang buta tampak menerawang jauh, kemudian berkata lagi, "Andai saja aku masih hidup pada masamu nanti (diangkat menjadi Rasul), tentu aku akan membantumu dengan sungguh-sungguh…!!"
Nabi SAW menjadi lebih tenang dengan penjelasan Waraqah bin Naufal.
Beberapa waktu bulan berselang, sebagian menyebutkan beberapa hari, atau lainnya beberapa bulan (ada juga pendapat yang menyebutkan hingga 3 tahun), wahyu tersebut seakan terputus dan beliau menjadi bimbang. Pada dasarnya, Nabi SAW sangat tidak suka dengan penyair dan syair-syairnya. Ketika wahyu pertama tersebut terputus seakan tidak ada kelanjutannya, beliau berfikir jangan-jangan itu sekedar syair semata, sebagaimana syair-syair yang disenandungkan oleh kaum Quraisy, dan hal itu menyebabkan beliau sangat gelisah.
Dalam puncak kegelisahan tersebut, beliau ingin mati saja dengan menerjunkan diri dari puncak gunung yang tinggi. Beliau mendaki sebuah gunung, tetapi belum jauh mendaki, tiba-tiba terdengar suara dari langit, "Wahai Muhammad, engkau adalah Rasul Allah, dan aku adalah Jibril…!!"
Beliau mendongakkan kepala ke langit, dan di sana beliau melihat Jibril dalam rupa seorang lelaki dengan wajah sangat berseri, kedua kakinya menapak di ufuk langit. Sekali lagi Jibril berkata, "Wahai Muhammad, engkau adalah Rasul Allah, dan aku adalah Jibril…!!"
Nabi SAW hanya terdiam dalam kebingungan, kaki beliau seakan terpaku ke bumi, tidak bisa bergerak maju ataupun mundur. Setiap kali beliau berpaling ke arah langit yang lain, sosok Jibril tersebut telah ada di sana dengan tersenyum kepada beliau. Peristiwa tersebut berlangsung beberapa waktu lamanya, setelah Malaikat Jibril telah benar-benar lenyap (pergi) dari ufuk langit, barulah beliau bisa menggerakkan kaki dan beliau segera pulang  ke Makkah.
Sementara itu di Makkah, Khadijah merasa kehilangan Nabi SAW. Ia telah mengutus beberapa orang untuk mencari keberadaan beliau di Makkah dan sekitarnya tetapi mereka tidak bisa menemukan beliau. Setelah para pencari tersebut pulang dengan  tangan hampa dan kembali ke rumahnya masing-masing, barulah Nabi SAW sampai di rumah, dan beliau langsung duduk di paha Khadijah dan bersandar kepada istrinya tercinta tersebut. Khadijah berkata, "Darimana saja engkau, wahai Abul Qasim? Sungguh aku telah mengirim beberapa orang untuk mencarimu ke Makkah dan sekitarnya, tetapi mereka pulang dengan tangan hampa…!!"
Nabi SAW menceritakan peristiwa yang dialaminya dengan lengkap, setelah itu Nabi SAW tertidur karena cape. Khadijah segera menemui Waraqah dan menceritakan pengalaman Nabi SAW tersebut, dengan gembira Waraqah berkata, "Mahasuci, Mahasuci, demi diri Waraqah yang ada di Tangan-Nya, Namus yang besar, yang pernah datang  kepada Musa kini benar-benar telah datang kepadanya (lagi), dia (Muhammad SAW) adalah benar-benar nabi umat ini…!! Katakan kepadanya agar ia berteguh hati..!!"
Khadijah segera kembali ke rumah. Setelah Nabi SAW bangun dari tidurnya, Khadijah berkata, "Bergembiralah anak pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi diri Khadijah yang berada di Tangan-Nya, aku benar-benar berharap engkau akan menjadi nabi dari umat ini…!!"
Beberapa waktu kemudian, ketika Nabi SAW bertemu langsung dengan Waraqah bin Naufal, beliau menceritakan pengalaman beliau tersebut, dan sekali lagi Waraqah berkata dengan gembira, "Demi diri Waraqah yang ada di Tangan-Nya, engkau adalah benar-benar nabi umat ini. Namus yang besar  telah datang kepadamu, sebagaimana ia pernah datang kepada Musa…!!"
Setelah beberapa waktu berlalu ‘kegoncangan jiwa’ beliau berangsur sirna, dan tumbuhlah keyakinan bahwa Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar telah menetapkan beliau sebagai Nabi umat ini, Nabi akhir zaman. Tentu semua itu tidak lepas dari dukungan moral dan pemahaman yang diberikan oleh istrinya, Khadijah dan juga Waraqah bin Naufal. Sayangnya tidak lama setelah itu, Waraqah meninggal dunia.
Beberapa hari berlalu, ketika Nabi SAW tengah berjalan, tiba-tiba terdengar suara dari langit, dan tampak malaikat Jibril yang mendatangi beliau di Gua Hira, sedang duduk di suatu kursi yang menggantung antara bumi dan langit. Nabi SAW mencoba mendekatinya tetapi tiba-tiba beliau jatuh terjerembab, dan malaikat Jibril hilang dari pandangan. Beliau segera pulang dan setibanya di rumah beliau berkata kepada Khadijah, “Selimutilah aku, selimutiah aku….!!”
Setelah diselimuti oleh istrinya Nabi SAW mulai tenang. Masih ada sedikit gemetar, tetapi keadaannya tidak seperti saat pertama kali beliau bertemu malaikat Jibril di Gua Hira. Dan tak lama berselang Allah menurunkan wahyu, QS Al Muddatstsir ayat 1 s.d. 5, : Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah.
Dengan turunnya wahyu yang kedua ini, makin mantaplah beliau akan ‘identitas’ kenabian dan tugas risalah yang beliau emban dari Allah SWT untuk umat manusia. Wahyu pertama al Iqra (QS al Alaq 1 – 5) bisa dikatakan sebagai pengenalan (ma’rifat) ‘identitas’ ketuhanan, yakni Allah SWT sebagai pemberi Risalah. Dan wahyu kedua QS al Muddatstsir 1 – 5, bisa dikatakan ‘wahyu pertama’ tentang kewajiban Nabi SAW menyampaikan Risalah kepada umat manusia. Wallahu A’lam.

Note : sn89muq79

Nabi SAW di antara Tradisi Jahiliah

Sejak masih kecil hidup di lingkungan kaum Quraisy yang mayoritas menyembah berhala, tidak pernah sekalipun Nabi SAW ‘terbawa arus’ mengikuti pola hidup dan kepercayaan mereka. Walau para tokoh jahiliah tersebut masih kerabat dekat beliau, seperti Abu Jahal, Abu Lahab, bahkan Abu Thalib yang mengasuh beliau, tetapi sama sekali beliau tidak ‘terkontaminasi’ dengan pekerti jahiliah mereka yang jelek-jelek. Tentu saja semua itu tidak terlepas dari jaminan dan penjagaan Allah, yang menyebabkan pengaruh buruk mereka sama sekali tidak bisa menyentuh beliau.
Walaupun tidak bisa membaca dan menulis (ummi), tetapi Nabi SAW layaknya seorang pengamat yang brillian atas apa yang tengah terjadi di sekitar beliau. Dengan kecerdasan dan fitrah suci yang diberikan Allah, beliau bisa memilah dan memilih apa yang seharusnya (yang benar) dan tidak seharusnya (yang salah). Beliau hanya bergaul dengan mereka, sejauh ada nilai-nilai kebaikan yang bisa beliau peroleh, kalau tidak, beliau lebih suka menyendiri.   
Tetapi bagaimanapun juga Nabi SAW masih manusia biasa, yang secara perkembangan fisik dan mental, khususnya di masa-masa remaja, ada juga kecenderungan jiwa yang menggelitik untuk sekedar menikmati dan mencicipi kesenangan duniawiah. Tetapi kemudian Allah memberi pertolongan dan perlindungan sehingga beliau ‘gagal’ untuk mewujudkan kecenderungannya itu. Beliau pernah bersabda, “Tidak pernah terlintas dalam benakku suatu keinginan untuk mengikuti kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang jahiliah kecuali hanya dua kali. Tetapi kemudian Allah menjadi penghalang antara diriku dan keinginan itu, dan setelah itu aku tidak lagi punya keinginan (kesenangan duniawiah) sedikitpun, sehingga Allah memuliakan aku dengan risalah-Nya….!!”
Kemudian Nabi SAW menceritakan, bahwa ketika remaja beliau bekerja menggembalakan kambing. Berbeda dengan di Indonesia, di Arab dan padang pasir pada umumnya, mereka menggembalakan kambing (dan ternak lainnya) pada malam hari, dan biasanya jauh di luar kota. Suatu malam beliau mendengar adanya keramaian di Makkah, maka beliau berkata pada seorang pemuda lain yang juga menggembala, “Tolong awasilah kambing-kambing gembalaanku, karena aku hendak masuk Makkah dan hendak mengobrol di sana sebagaimana dilakukan pemuda-pemuda yang lain…!!”
“Baiklah,” Kata penggembala itu, “Aku akan melakukannya!!”
Beliau masuk ke Makkah, di suatu rumah yang sedang mengadakan keramaian, yakni terdengar suara rebana ditabuh, beliau berhenti dan bertanya kepada seseorang, “Ada apa ini?”
Orang itu berkata, “Perhelatan pernikahan Fulan dan Fulanah.”
Maka beliau memutuskan untuk melihatnya. Seperti kebiasaan jahiliah, selain tabuhan rebana, ada tarian dan juga kebiasaan buruk lainnya termasuk minuman khamr. Tetapi begitu beliau duduk, tiba-tiba telinganya seperti tersumbat dan langsung tertidur. Beliau terbangun ketika panas telah menyengat dan di sekitar rumah itu telah sepi. Beliau segera kembali ke temannya penggembala kambing, mengabarkan apa yang terjadi.
Pada malam lainnya, ketika beliau mendengar ada keramaian di Makkah, beliau ingin melihatnya, dan menitipkan kambing gembalaannya pada temannya. Tetapi seperti sebelumnya, begitu duduk beliau langsung tertidur, tidak mendengar dan melihat apapun, hingga panas matahari membangunkan beliau dan keadaan telah sepi.
Setelah dua kali pengalaman itu, beliau tidak pernah lagi mempunyai keinginan untuk melihat atau terlibat pada aktivitas yang dilakukan oleh orang-orang jahiliah.

Note:sn86

Kamis, 14 Mei 2015

Salah Satu Fitnah Akhir Zaman

            Suatu ketika Rasulullah SAW bersabda, “Akan datang suatu masa, dimana bagi orang yang beragama (yakni, memegang dan menjalankan agamanya dengan teguh), tidak akan selamat agamanya kecuali bagi orang yang lari dengan membawa agamanya dari suatu kampung ke kampung lainnya, dari suatu dataran tinggi ke dataran tinggi lainnya, dari suatu batu ke batu lainnya, layaknya seperti musang yang menipu (yakni, selalu bergerak untuk bersembunyi)…”
            Dalam kesempatan lainnya, Nabi SAW juga pernah menjelaskan bahwa di akhir zaman itu, orang yang memegang teguh agamanya, seperti orang yang memegang bara api. Jika tetap dipegangnya, api itu akan membakar tangannya, tetapi jika diletakkan maka api itu akan padam.
            Mendengar hal itu, salah seorang sahabat berkata, “Wahai Nabiyallah, kapan yang seperti itu akan terjadi?”
            Beliau SAW bersabda, “Apabila mata pencaharian tidak dapat diperoleh kecuali dengan jalan/perbuatan maksiat kepada Allah. Apabila masa itu telah tiba, maka sikap membujang (tidak menikah) diperbolehkan!!”
            Salah seorang sahabat berkata, “Bagaimana terjadi demikian, bukankah engkau telah memerintahkan kami untuk menikah, ya Rasulullah!!”
            Nabi SAW bersabda, “Apabila masa itu telah tiba, maka kebinasaan seseorang (bisa terjadi) pada tangan kedua orang tuanya. Kalau ia tidak (lagi) memiliki kedua orang tuanya, maka kebinasaannya (bisa terjadi) pada kedua tangan istrinya. Jika ia tidak mempunyai istri, maka kebinasaannya (bisa terjadi) pada kedua tangan para kerabatnya!!”
            Seorang sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa terjadi demikian?”
            Beliau SAW bersabda, “Mereka itu (yakni orang tua, istri, kerabat, atau mungkin orang terdekat lainnya) menghinanya dengan sempit tangan (yakni, sedikit pemberian, atau kikir), lalu ia terpaksa melakukan pekerjaan yang ia tidak mampu melakukannya, kecuali pada jalan yang membawanya kepada kebinasaan (yakni jalan bermaksiat kepada Allah).”    

Note : iu4-143

“Wahai Rasulullah, hatiku membisikkan ….”

            Utsman bin Mazh’un RA adalah seorang sahabat Muhajirin dan termasuk salah seorang as-sabiqunal awwalin (golongan yang mula-mula memeluk Islam), ketika itu kaum muslimin belum mencapai duapuluh orang. Ia sempat hijrah ke Habasyah tetapi kemudian kembali ke Makkah, ia juga menjadi sahabat yang pertama meninggal Madinah dan dimakamkan di Baqi. Suatu ketika Utsman bin Mazh’un bertemu Nabi SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, hatiku membisikkan agar aku menceraikan Khaulah binti Hakim (yakni istrinya)!!”
Rasulullah SAW memang pernah mengajarkan kepada para sahabat, bahwa apabila mereka merasakan sesuatu yang meragukan, hendaklah ia ‘bertanya’ kepada hati kecilnya. Ibnu Mazh’un ini memang merupakan sahabat yang selalu ingin meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya kepada Allah. Dan dalam rangka ‘mengejar’ peningkatan ibadah itu, terbersit dalam hatinya pemikiran bahwa ia akan lebih banyak dan lebih fokus beribadah jika tidak memiliki istri.
Mendengar penuturannya itu, beliau bersabda, “Janganlah engkau tergesa-gesa, sungguh di antara sunnah-sunnahku adalah menikah!!”
Ia berkata lagi, “Wahai Rasulullah, hatiku membisikkan agar aku memutuskan (mengebiri) alat syahwat dariku!!”
Nabi SAW bersabda, “Janganlah engkau tergesa-gesa, mengebiri syahwat untuk umatku adalah dengan melanggengkan (yakni, istiqomah) berpuasa!!”
Utsman Berkata lagi, “Hatiku membisikkan agar aku mengasingkan diri dari manusia (yakni, bersikap rahbaniyyah, seperti rahib, paderi dan pendeta untuk fokus beribadah).”
Nabi SAW bersabda, “Janganlah engkau tergesa-gesa, sesungguhnya hidup rahbaniyyah bagi umatku adalah jihad dan haji!!”
Ia berkata lagi, “Hatiku membisikkan agar aku meninggalkan memakan daging (kalau sekarang mungkin disebut vegetarian).”
Nabi SAW bersabda, “Janganlah engkau tergesa-gesa, sesungguhnya aku menyukainya (yakni memakan daging), seandainya aku memperolehnya niscaya aku akan memakannya. Dan jika aku memohon kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya !!”

Note : iu5-67

Kamis, 04 Desember 2014

Ketika Malaikat Jibril Terhalang Masuk

Suatu ketika Malaikat Jibril berjanji akan mendatangi Nabi SAW di rumah Aisyah, istri kesayangan beliau. Tetapi ketika waktu yang ditentukan itu tiba, malaikat Jibril belum muncul juga, padahal Nabi SAW telah menunggu cukup lama di dalam rumah. Beliau meletakkan tongkat yang dipegangnya sambil berkata, “Allah dan utusan-Nya (yakni Jibril) tidak mungkin menyelisihi janji!!”
Tiba-tiba Nabi SAW melihat ada seekor anjing berlari-lari di bawah tempat tidur, beliau bersabda kepada istrinya, “Kapan anjing itu masuk?”
Aisyah berkata, “Deni Allah, saya tidak mengetahuinya!!”
Maka beliau menyuruh Aisyah mengeluarkan anjing tersebut dari dalam rumah, dan tak lama berselang malaikat Jibril datang. Rasulullah SAW bersabda, “Engkau telah berjanji kepada saya untuk datang, tetapi saya telah lama duduk menunggu tetapi engkau tidak muncul-muncul juga?”
Malaikat Jibril berkata, “Anjing di dalam rumah itulah yang mencegah saya untuk masuk, sesungguhnya saya tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar!!”
Dalam riwayat lainnya disebutkan, Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa memelihara anjing, selain anjing untuk berburu atau untuk menjaga ternak (dan tanaman, dalam riwayat lainnya), maka pahalanya akan dikurangi dua qirath (dalam riwayat lain, satu qirath) setiap harinya.”
Tentang gambar, antara lain Nabi SAW pernah bersabda, “Barangsiapa menggambar suatu gambar (yang bernyawa) di dunia, maka nanti pada hari kiamat ia akan dituntut untuk meniupkan roh ke dalamnya, padahal ia tidak akan mampu untuk meniupkannya!!”
Beliau juga bersabda, “Sesungguhnya siksaan Allah yang paling keras (berat) pada hari kiamat nanti, yakni pada orang-orang yang suka menggambar.”      

Note : rs2-514..