Jumat, 22 Juni 2012

Tanggapan atas Isra’ Mi’raj Nabi SAW

Perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW bukanlah perjalanan biasa, dan bukan pula sebuah perjalanan luar biasa dalam jangkauan pemikiran manusia, tetapi lebih dari semua itu adalah sebuah perjalanan mu’jizat. Artinya, setinggi apapun nantinya ilmu pengetahuan itu akan mencapai posisinya, sebanyak apapun nantinya rahasia alam semesta itu terungkap oleh manusia, mereka tidak akan pernah bisa “menapak-tilasi” perjalanan yang telah dialami oleh Nabi SAW dalam peristiwa Isra’ Mi’raj itu secara persis sama. Hal ini telah diindikasikan dengan awalan kata ‘Subkhaana’ (Maha Suci Allah) pada QS Al Isra ayat 1, yang menjelaskan tentang perjalanan Isra Nabi SAW.
Jarak antara Makkah di mana Baitul Haram berada dan Baitul Maqdis di Palestina, termasuk wilayah Syam, adalah sekitar 3.000 kilometer. Kafilah dagang kaum Quraisy biasanya memerlukan waktu sebulan untuk berangkatnya, dan sebulan pula ketika kembali. Hal itu disadari benar oleh Nabi SAW, beliau pernah menjalaninya bersama paman beliau Abu Thalib ketika berusia 12 tahun, atau ketika menjalankan perdagangan Khadijah saat berusia 25 tahun. Karena itu beliau sempat termenung diliputi kesedihan pada pagi harinya, orang-orang Quraisy sudah pasti tidak akan mempercayai cerita beliau ini. Tetapi perasaan seperti itu hanya hanya muncul sekejab saja, segera saja beliau tampak tenang dan mantap hatinya ketika teringat akan apa yang beliau alami semalam, di mana Allah telah menunjukkan secara langung tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Saat itulah Abu Jahal datang dan berkata sinis, “Wahai Muhammad, apakah ada yang ingin engkau katakan, sehingga aku bisa memperoleh faedah darinya??”
Bagaimanapun juga Nabi SAW tidak akan mengatakan sesuatu kecuali kebenaran. Sebesar dan seberat apapun cacian, halangan dan siksaan yang akan beliau hadapi setelah Isra’ Mi’raj ini, kecil dan ringan saja bagi beliau. Terlepas dari fakta bahwa selama ini Abu Thalib dan Khadijah menjadi pembela yang kokoh, tetapi sebenarnya beliau menyandarkan diri hanya kepada Allah. Dengan berbagai macam ‘Tanda-tanda Kebesaran Allah’ yang ditunjukkan kepada beliau (linuriyahuu min aayaatinaa), kepasrahan dan tawakal beliau kepada Allah makin mengerucut saja. Tidak ada lagi ketakutan dan kekhawatiran ketika hanya Allah yang menjadi sandaran.
Mendengar pertanyaan menghina itu, dengan tenangnya Nabi SAW menjawab, “Benar, tadi malam aku telah diisra’kan (diperjalankan)!!”
“Ke mana?” Tanya Abu Jahal.
Nabi SAW berkata, “Ke Baitul Maqdis!!”
“Baitul Maqdis di Palestina??” Kata Abu Jahal tidak percaya, “Lalu pagi-pagi begini kamu telah berada di antara kami disini??”
“Benar!!” Kata Nabi SAW.
Tampak mata Abu Jahal berbinar gembira, seolah-olah ia telah memperoleh ‘kartu truft’ untuk bisa menghancurkan dan menghentikan dakwah Nabi SAW, dengan hal yang sangat tidak masuk akal itu. Ia berkata, “Apakah kamu mau menceritakan kepada kaummu yang lainnya, apa yang baru saja engkau ceritakan kepadaku??”
Beliau bersabda, “Baiklah!!”
Abu Jahal berteriak keras, “Wahai Bani Ka’ab bin Luay, kemarilah kamu semua!!”
Mereka segera datang dan berkumpul di sekitar Nabi SAW, kemudian Abu Jahal berkata, “Ceritakanlah kepada kaummu apa yang baru saja engkau katakan kepadaku!!”
Nabi SAW berkata, “Tadi malam aku telah diisra’kan (diperjalankan)!!”
Mereka bertanya, “Ke mana?”
Nabi SAW berkata, “Ke Baitul Maqdis!!”
“Baitul Maqdis di Palestina??” Kata mereka tidak percaya, “Lalu pagi-pagi begini kamu telah berada di antara kami disini??”
“Benar!!” Kata Nabi SAW.
Mereka saling berpandangan, tampak sekali mata mereka berbicara kalau Nabi SAW mungkin telah ‘tidak waras’. Tetapi ketika mereka memandang kembali kepada Nabi SAW yang tampak begitu tenang, dan sama sekali tidak tampak tanda-tanda kedustaan seperti biasanya, akal mereka jadi terguncang. Pada dasarnya mereka sangat mengenal Nabi SAW sebagai orang yang sangat benar dan terpercaya sejak masa kecilnya. Tidak pernah sekalipun mereka menentang dan mendustakan beliau sebelum beliau mendakwahkan Islam. Tetapi menghadapi kontradiksi logika ini, yakni ketidak-mungkinan menempuh Makkah-Palestina pulang pergi dalam semalam, dan Nabi SAW yang tidak pernah dan tidak mungkin berdusta sejak masih kecilnya, justru mereka yang menjadi terbengong. Ada sebagian dari mereka yang telah memeluk Islam menjadi murtad kembali. Sementara kebanyakan kaum kafir  makin jauh tenggelam dalam pengingkaran kepada Nabi SAW, dan tampak sangat mencemoohkan beliau.
Kalau saja yang dihadapi Nabi SAW saat menceritakan pengalaman Isra’ Mi’raj adalah ilmuwan-ilmuwan sekarang yang telah mendalami ilmu-ilmu astronomi, antariksa, astrofisika, kimia, metafisika dan lain sebagainya. Atau juga ilmuwan-ilmuwan NASA yang telah ‘berpengalaman’ membuat perjalanan jauh dalam sekejab, bahkan mencapai bulan dan mars, tentulah keadaannya tidak akan seheboh kaum kafir Quraisy saat itu. Dengan membuat kendaraan dengan kecepatan seper-seratus persen (1/10.000) saja dari kecepatan cahaya, maka Makkah-Palestina hanya ditempuh dalam seratus detik, atau kurang dari dua menit saja. Kecepatan cahaya adalah 300.000 km/detik, seper-seratus persennya berarti 30 km/detik. Apalagi dengan kemampuan menghasilkan energi dari zat radioaktif seperti yang ditemukan Einstein. Dengan hanya satu gram uranium saja, mungkin telah cukup menggerakkan kendaraan tersebut untuk menempuh Makkah-Palestina puluhan atau ratusan kali pulang pergi.
Belum lagi kalau Nabi SAW menceritakan kisah Isra’ Mi’raj beliau kepada para Futurolog Scientist yang punya imaginasi tinggi, sehingga bisa memperkirakan terjadi Star Wars (Perang Bintang), atau sekedar membuat film-film imaginasi antariksa semacam Star Trek dan lain-lainnya. Ditambah lagi dengan adanya fenomena UFO (Unidentification Flying Obyek/Piring Terbang) yang memiliki kecepatan sangat super, yang saat ini belum bisa dijelaskan oleh ilmuwan paling brilliant sekalipun di bumi ini. Bisa jadi mereka ini, dan juga para ilmuwan tersebut - terlepas karena hidayah Allah - akan segera memeluk Islam dengan keimanan yang sangat mendalam. Hal ini disebabkan apa yang dialami Nabi SAW bisa jadi sangat masuk akal dan sangat ilmiah dalam pemikiran, penelitian dan pengamatan mereka. Bahkan sangat mungkin bisa membawa mereka pada tingkat pengetahuan yang lebih tinggi lagi.
Dalam keadaan yang membingungkan tersebut, kaum kafir itu mendatangi Abu Bakar, sahabat terbaik Nabi SAW. Mereka berharap, setelah mendengar cerita beliau tentang Isra’ Mi’raj itu Abu Bakar akan ingkar, dan hal itu akan melemahkan dakwah beliau. Setelah bertemu Abu Bakar, mereka menceritakan pengalaman Nabi SAW pada malam itu, Abu Bakar berkata, "Kalian berdusta!!"
"Sungguh," kata mereka. "Dia di mesjid sedang bicara dengan orang banyak."
Abu Bakar berkata, "Dan kalaupun itu yang dikatakannya, tentu beliau bicara yang sebenarnya. Dia mengatakan kepadaku, bahwa ada berita dari Tuhan, dari langit ke bumi, pada waktu malam atau siang, aku percaya!!”
Kemudian Abu Bakar bangkit mengikuti mereka datang ke Masjidil Haram, saat itu Nabi SAW tengah melukiskan keadaan Masjidil Aqsha dengan mendetail. Memang, ketika mereka mendatangi Abu Bakar, ada salah seorang kafir yang sangat mengenal seluk beluk Masjidil Aqsha meminta beliau menyebutkan ciri-cirinya, sebagai bukti bahwa beliau memang singgah di sana. Sebenarnya suatu permintaan yang sangat tidak masuk akal, namanya singgah tentulah Nabi SAW tidak secara mendetail memperhatikannya karena hanya sekedar shalat dua rakaat di sana. Tetapi tentunya mudah saja bagi Allah, tinggal memerintahkan Jibril untuk menunjukkan kepada beliau. Kalau sekarang ini, layaknya seperti sedang menonton video rekaman tentang Masjidil Aqsha, Nabi SAW dengan lancar menceritakan ciri-cirinya, warnanya, jumlah pintu dan jendelanya, dan tanda-tanda lainnya. Lagi-lagi orang kafir itu hanya terbengong, tidak percaya dan tidak masuk akal (dalam kemampuan logika dan pengetahuan mereka saat itu), tetapi nyata dan semua jawaban beliau itu benar.    
Setelah Nabi SAW selesai melukiskan keadaan masjidnya, Abu Bakar yang juga cukup mengenal keadaan Masjidil Aqsha berkata, “Engkau benar, ya Rasulullah, dan saya percaya dengan semua yang engkau alami (yakni Isra’ Mi’raj beliau itu) tadi malam. Bahkan apabila engkau menceritakan pengalaman engkau yang lebih jauh (atau lebih hebat) daripada itu, saya mempercayainya!!”
Rasulullah SAW berkata kepada Abu Bakar, “Sungguh, engkau ini adalah ash Shiddiq!!”
Ash Shiddiq artinya adalah yang selalu membenarkan. Sejak itulah Nabi SAW menggelari Abu Bakar dengan ‘Ash Shiddiq’ dan beliau lebih sering memanggilnya dengan nama gelarannya tersebut. Ketegasan Abu Bakar dalam membenarkan Nabi SAW ‘tanpa reserve’ itu ikut berperan besar dalam memantapkan kaum muslimin yang dalam kebimbangan. Mungkin memang ada beberapa orang yang menjadi murtad, tetapi sebagian besar tetap bertahan dalam keislaman berkat ketegasan Abu Bakar dalam membenarkan Nabi SAW apapun dan bagaimanapun yang belum sampaikan dan ceritakan.
Orang-orang kafir Quraisy menjadi tidak puas karena ‘prediksinya’ tentang sikap Abu Bakar meleset. Mereka berfikir cepat, dan salah seorang dari mereka berkata, “Ceritakanlah tentang rombongan kafilah dagang kami yang berangkat ke Syam!!”
Nabi SAW berkata, “Sesungguhnya aku telah melewati rombongan Bani Fulan (yakni salah satu kafilah dagang mereka) di Rauha’, mereka sedang mencari salah satu untanya yang hilang, dan aku menunjukkan dimana untanya tersesat. Aku juga sempat minum segelas air pada kendaraan mereka, dan menyisakannya. Silahkan kalian bertanya kepada mereka tentang hal ini jika mereka telah kembali!!”
Mendengar penjelasan itu, salah seorang dari mereka berkomentar, “Sungguh ini suatu bukti (bahwa Nabi SAW benar dengan cerita dan pengalaman beliau)!!”
Mereka berkata lagi, “Ceritakanlah rombongan unta kami lainnya yang akan kembali??”
Nabi SAW bersabda, “Aku melewati mereka di Tan’im.”
Tan’im adalah daerah perbatasan ‘tanah haram’ tetapi sudah termasuk ‘tanah halal’, jauhnya tidak sampai sepuluh kilometer dari Makkah. Mereka berkata, “Berapa jumlahnya, apa saja muatannya, keadaannya bagaimana, siapa saja dan kapan akan tiba di sini?”
Lagi-lagi suatu permintaan yang tidak masuk akal. Tetapi segera saja Jibril ‘menyetel video clip’ perjalanan rombongan dagang itu untuk beliau, dan Nabi SAW dengan lancar menceritakannya, “Rombongan dagang itu adalah begini dan begini, di dalamnya ada si Fulan dan si Fulan, yang paling depan adalah seekor unta berwarna abu-abu. Dan mereka akan tiba di sini pada saat matahari terbit besok pagi!!”
Ternyata rombongan kafilah itu telah mengirimkan utusan tentang kedatangan mereka, dan dia hadir juga saat itu. Spontan ia berkomentar, “Ini juga suatu tanda bukti!!”
Keesokan harinya ketika matahari terbit, mereka menjumpai rombongan kafilah dagang itu datang dengan ciri-ciri yang tepat seperti digambarkan Rasulullah SAW. Namun, karena Allah memang belum menghendaki mereka untuk memperoleh hidayah keislaman, mereka hanya berkata, “Sungguh ini adalah suatu sihir yang nyata!!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar