Rabu, 27 Maret 2013

Zakat yang Mengundang Hidayah

          Suatu ketika Nabi SAW bersabda kepada para sahabat yang tengah berkumpul, “Jagalah harta bendamu dengan (membayar) zakat, obatilah penyakitmu dengan shadaqah, dan hadapilah musibah (bencana) dengan doa dan tawadhu’ (merendahkan diri kepada Allah)!!”
            Ternyata tidak jauh dari para sahabat yang tengah berkumpul itu ada seorang Nashrani yang juga mendengarnya, dan sabda beliau tersebut sangat berkesan di hatinya. Saat itu ia tengah mengirim suatu kafilah dagang ke Mesir, yang dijalankan dan dipimpin oleh salah seorang mitra usahanya. Ia menyadari bahwa perjalanan melewati padang pasir yang luas terkadang menghadapi bahaya para perompak, atau sekelompok orang badui yang suka menjarah barang perniagaan. Karena itu ia ingin ‘mempraktekkan’ apa yang disampaikan Nabi SAW untuk keamanan harta perniagaannya.
            Ketika sampai di rumah, ia mengeluarkan sebagian harta bendanya dan memberikan kepada fakir miskin yang berada di sekitarnya. Tentunya tidak seperti perhitungan zakat yang seharusnya, hanya saja ia meniatkan sebagai zakat untuk “mengamankan” kafilah dagangnya. Ia berkata dalam hatinya, “Jika Muhammad benar dengan apa yang dikatakannya, maka aku akan masuk Islam dan beriman kepadanya. Tetapi jika perkataannya dusta dan tidak terbukti, maka aku akan mendatanginya dan membunuhnya!!”
            Sabda Nabi SAW tersebut tentunya tidak harus selalu ditafsirkan secara literal begitu saja, harusnya lebih diutamakan dengan orientasi keselamatan hidup di akhirat. Dengan mengeluarkan zakat atas harta yang telah memenuhi nisab dan haul-nya, mengeluarkan shadaqah serta menghadapi musibah dengan doa dan bersikap tawadhu’, sudah pasti kita akan memperoleh pahala dan kemanfaatan yang amat besar pada Yaumul Ba’ats (hari kebangkitan setelah kiamat) kelak.  
            Setelah beberapa hari berlalu, dan telah tiba waktu yang diperkirakan mitranya sampai kembali di Madinah, ia mendengar kabar kalau ada perompakan yang menimpa suatu kafilah dagang. Sang Nashrani itu jadi khawatir, ia hampir yakin kalau kafilah dagangnya yang menjadi korban, dan itu berarti sabda Nabi SAW tidak benar. Maka ia segera menghunus pedangnya, bersiap mendatangi dan membunuh beliau.
            Tetapi belum jauh meninggalkan rumahnya, tampak serombongan unta mendatanginya dan ternyata adalah kafilah dagang miliknya. Melihatnya keluar dengan pedang terhunus, mitra usahanya itu berkata, “Janganlah engkau khawatir, ketika terjadi pencegatan dan perompakan terhadap sekelompok pedagang, aku berada agak jauh di belakang, sehingga harta benda kita aman dan terjaga semuanya!!”
            Sang Nashrani berkata, “Benar apa yang dikatakan Muhammad, ia benar-benar seorang Nabi yang diutus!!”
            Ia tetap melanjutkan langkahnya kepada Nabi SAW tetapi dengan pedang disarungkan. Setelah berada di hadapan beliau, ia menceritakan apa yang dialaminya dan berba’iat memeluk Islam. Dengan senang hari Nabi SAW menerimanya dan beliau mendoakannya dengan kebaikan.

Note:dn269

1 komentar:

  1. Mohon izin untuk me-repost ulang tulisannya sebagai bahan tulisan untuk tugas sekolah kami. Terimakasih

    BalasHapus