Minggu, 02 September 2012

Ketika Shalat Tidak Khusyu’

            Suatu ketika Nabi SAW sedang berkumpul dengan para sahabat dalam sebuah majelis pengajaran, tiba-tiba datanglah seorang Badui (orang Arab pedalaman/pedesaan) sambil mengucap salam, “Assalamu’alaika ya Rasulullah, wa ‘alaikum ya jamii’al juluus!!”
            Kemudian ia meminta ijin untuk menanyakan sesuatu. Setelah dijawab salamnya dan diijinkan, ia berkata, “Wahai Rasulullah, Allah telah mewajibkan kepada kita shalat lima waktu, tetapi pada saat yang sama, Allah menguji kita dengan dunia beserta hal ikhwalnya?? Maka, demi hakmu, ya Rasulullah, tidaklah kami mengerjakan satu rakaat-pun kecuali segala kesibukan dunia seringkali masuk di dalamnya. Lalu, bagaimana mungkin Allah menerimanya sedangkan shalat itu bercampur dengan kesibukan dunia??”
            Pertanyaan yang diajukan oleh orang Badui itu, bisa jadi mewakili keadaan sebagian besar kaum muslimin yang berada jauh dari ‘lingkaran’ Rasulullah SAW, bukan dari kalangan sahabat Muhajirin dan Anshar. Mungkin termasuk kita semua yang berada sangat jauh dari ‘lingkaran waktu’ kehidupan Nabi SAW.
Nabi SAW hanya tersenyum bijak mendengar pertanyaan itu. Tetapi belum sempat beliau berkomentar, Ali bin Abi Thalib, yang hadir sekaligus meriwayatkan kisah ini, berkata, “Shalat seperti itu tidak akan diterima Allah SWT, dan Allah tidak akan memandang shalat seperti itu!!”
Mendengar perkataannya itu, Nabi SAW berkata kepada Ali, “Wahai Ali, apakah kamu mampu mengerjakan shalat dua rakaat karena Allah semata, tanpa terganggu dengan segala kesusahan, kesibukan dan bisikan-bisikan??”
Ali berkata, “Saya mampu melakukannya, ya Rasulullah!!”
Tentu saja Nabi SAW sebenarnya mengetahui bahwa Ali dan sahabat-sahabat terdekat dalam lingkaran kehidupan beliau, baik kaum Muhajirin ataupun Anshar, bisa melakukan shalat seperti itu, yakni shalat yang khusyu’ hanya karena Allah. Dan hal itu bisa dimaklumi karena para sahabat itu langsung dalam didikan dan pengawasan Rasulullah SAW. Sehari-harinya mereka melihat dan mengikuti contoh nyata dari beliau, tidak sekedar dalam perbuatan, terlebih dalam (pengaruh) ‘aura’ akhlaqul karimah Nabi SAW.
Tetapi karena Islam dan Rasulullah SAW adalah rahmatan lil ‘alamin, tidak hanya sekedar untuk para sahabat tersebut, beliau ingin memberikan pelajaran yang berharga, untuk tidak membuat orang Badui itu, atau umat Islam pada ‘lingkaran’ yang jauh dari beliau, termasuk kita semua tidak berputus asa dari rahmat Allah. Begitu mendengar kesanggupan Ali, yang sebenarnya Nabi SAW tidak menyangsikan dirinya atau sahabat lainnya bisa melakukannya, maka beliau ‘menambahkan’ sedikit gangguan duniawiah. Nabi SAW bersabda, “Wahai Ali, jika engkau mampu melakukannya, aku akan memberikan kepadamu pakaianku yang buatan Syam!!”
Dalam riwayat lainnya, “… aku akan memberikan surbanku kepadamu, engkau bisa memilihnya, yang buatan Syam atau buatan Yaman!!”
Ali bin Abi Thalib bangkit untuk berwudhu secara sempurna, kemudian berdiri melakukan shalat dua rakaat seperti yang disanggupinya kepada Nabi SAW. Semua yang hadir, termasuk sang Badui itu, hampir yakin bahwa Ali akan memperoleh hadiah yang dijanjikan Nabi SAW, karena mereka melihat (dengan mata lahiriah semata tentunya) begitu sempurnanya shalat yang dilakukannya, begitu khusyu, khudur dan tawadhu’ tampaknya.
Usai shalatnya Ali, Nabi SAW bersabda, “Wahai Abul Hasan dan Husein, bagaimana pendapatmu!!”
Ali berkata, “Demi kebenaranmu, ya Rasulullah, sesungguhnya saya telah melakukannya pada rakaat pertama tanpa sedikitpun diganggu oleh kesibukan, kesusahan dan bisikan apapun. Tetapi ketika berada pada rakaat kedua, saya teringat akan janji engkau, dan saya membatin : Seandainya Nabi SAW memberikan pakaian Quthwani tentulah lebih baik daripada pakaian Syam itu (atau dalam riwayat lain : Surban Syam atau surban Yaman ya yang lebih baik??). Demi hakmu, ya Rasulullah, tidak ada seorang-pun yang dapat mengerjakan shalat dua rakaat dengan benar-benar murni karena Allah SWT semata-mata, dan ingatannya selalu terfokus hanya kepada Allah SWT!!”
Nabi SAW tersenyum dan bersabda kepada semua yang hadir, “Kerjakanlah shalat fardhumu dan janganlah kamu berbicara dalam shalatmu, karena sesungguhnya Allah tidak menerima shalat yang dicampur-adukkan dengan kesibukan-kesibukan dunia. Tetapi (tetaplah) engkau laksanakan shalatmu, dan mohonlah ampunan kepada Tuhanmu setelah selesai shalat. Aku berikan kabar gembira kepada kalian semua, bahwa Allah telah menciptakan seratus rahmat yang disebarkan pada umatku pada hari kiamat. Tidak seorangpun dari umatku,  baik laki-laki atau perempuan, yang mengerjakan shalat fardhu kecuali ia akan berdiri di bawah naungan shalatnya itu pada (terik panasnya) hari kiamat!!”
Pada riwayat lain, Nabi SAW menjelaskan bahwa dari seratus rahmat tersebut, satu rahmat diturunkan ke bumi, yang dengan satu rahmat itu, Allah memberikan karunia, rezeki dan kasih sayang kepada seluruh alam, sejak bumi diciptakan hingga hari kiamat tiba. Tidak terkecuali untuk orang-orang kafir dan ingkar dengan kekayaan tidak terukur (dalam ukuran duniawiah) seperti Qarun, atau para konglomerat di masa sekarang ini. Bahkan dengan satu rahmat ini, Allah ‘mencegah’ binatang-binatang buas seperti harimau, singa, serigala dan lain-lainnya memakan anak-anaknya sendiri. Pada hari kiamat kelak, satu rahmat itu diangkat kembali dan disatukan ke induknya seratus rahmat, dan disebarkan kepada kaum yang beriman dari seluruh umat, yang mayoritas adalah umat Nabi Muhammad SAW, khususnya yang mengerjakan shalat, seperti yang dikisahkan di atas, walau mungkin tidak bisa sepenuhnya khusyu’ dalam shalatnya. Wallahu A’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar